Hujan Meteor Akhir Pekan Ini Bukan Ancaman, Tapi Keindahan Langit

Hujan meteor Geminid. (nasa.gov)
Hujan meteor Geminid. (nasa.gov)

TEMPO.CO, Jakarta – Hujan meteor dinilai tidak berbahaya bagi penduduk bumi. Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung Sungging Mumpuni mengatakan, hujan meteor menawarkan keindahan langit bukan ancaman.

“Kalau ancaman bagi bumi sampai sekarang adalah asteroid yang sewaktu-waktu bisa menabrak bumi,” ujarnya, Kamis, 9 Agustus 2018.

Menurut Sungging, hujan meteor adalah peristiwa terbakarnya debu antariksa yang masuk ke bumi. Debu itu antara lain berasal dari ekor meteor yang lewat. Debu itu tertarik oleh gravitasi bumi dan terbakar di atmosfer.

Lesatan materialnya yang panas terbakar ke bumi itu yang terlihat sebagai hujan meteor. “Saat itu biasanya debu antariksa habis terbakar, jadi tidak berbahaya bagi penduduk bumi,” kata dia.

Baca Juga:  Generasi Milenial Bisa Saksikan Gerhana Bulan Terlama Abad Ini

Berbeda dengan benda langit lainnya yaitu asteroid. Menurut Sungging para pengamat di bumi selalu mengawasi potensi ancaman bahaya asteroid yang mengarah ke bumi. “Ada sistem pemantauan yang menginformasikan ukuran dan arahnya ke bumi,” ujarnya.

Hujan meteor Perseid kembali muncul hingga 24 Agustus sejak 17 Juli 2018. Masa puncaknya pada akhir pekan ini, mulai Ahad tengah malam 12 hingga 13 Agustus pukul 15.00 WIB yang bisa disaksikan pula di wilayah Indonesia. “Lesatan meteornya berkisar 55-80 meteor per jam,” kata penggiat astronomi di komunitas Langit Selatan Bandung, Avivah, Kamis, 9 Agustus 2018.

Adapun perkiraan jaringan meteor internasional, jumlah lesatan meteornya bisa mencapai 110 kali per jam. Bakal muncul dari sekitar rasi bintang Perseus, kecepatan meteornya hampir 60 kilometer per detik. “Arah rasinya di langit antara timur laut-utara,” kata Avivah.

Baca Juga:  'Anak Hukum', Ini 3 Tips Febby supaya Kamu Lulus 'Cum Laude'

Hujan meteor Perseid itu berasal dari sisa debu ekor komet Swift-Tuttle. Komet itu menurut sejarahnya, ditemukan dua astronom asal Amerika Serikat, Lewis Swift dan Horace Tuttle pada 1862.

Simak artikel menarik lainnya tentang hujan meteor akhir pekan ini hanya di kanal Tekno Tempo.co.

7 Alasan Kamu Harus Bangun Lebih Awal Setiap Hari Menurut Sains
7 Alasan Kamu Harus Bangun Lebih Awal Setiap Hari Menurut Sains
amazonaws.com Tidak mudah untuk bangun pagi-pagi sekali.
Pesawat Boeing 737 Ini Nyaris Celaka Gara-Gara Drone
Pesawat Boeing 737 Ini Nyaris Celaka Gara-Gara Drone
Ilustrasi Drone, sebuah pesawat tanpa awak GDU
‘Suara Misterius’ di Langit Pantura: Apa Penjelasan Ilmiahnya?
‘Suara Misterius’ di Langit Pantura: Apa Penjelasan Ilmiahnya?
Media sosial ramai membahas ‘suara misterius’ yang
Must read×

Top